TAKENGON – Putra Presiden RI ke 6 Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) merasa kagum dan ingin ketika mengetahui arti dan makna ukiran kerawang Gayo  yang terdapat pada Kain Panjang Khas Gayo ( Karawang  Gayo) yang dikenakan kepada setiap para tamu yang datang ke daerah ini.

Keseriusan Ibas terlihat jelas ketika seorang pengrajin kerawang Gayo menjelaskan arti dan makna setiap ukiran yang  terpajang di upuh ules ulen ketika mengunjungi pusat kerajinan masyarakat di Kecamatan Bebesen Takengon, Jum’at (21/9/2018)

Usai melaksanakan sholat Jum’at Berjama’ah di Masjid Agung Ruham’ma Takengon – Aceh Tengah, Ibas dan rombongan makan siang bersama di cafe One- One pinggiran danau lut Tawar yang menjadi kebanggaan rakyat Gayo di wilayah Tengah Aceh.

Selanjutnya, Ketua Fraksi Demokrat DPR-RI bersama rombongan meninjau salah  pengrajin kerawang Gayo di Kampung Bebesen Kecamatan Bebesen Aceh Tengah, setibanya di tempat tersebut Ibas didampingi Istrinya Aliya Rajasa dan rombongan mendapat penjelasan dari pengrajin apa arti dan makna ukiran kerawang Gayo yang terdapat di upuh ulen- ulen.

Putra mantan Presiden RI ke 6 tersebut terlihat sangat serius dan ingin mengetahui cara membuat maupun makna yang terdapat dalam ukiran khas Kerawang Gayo yang menjadi ciri khas pakaian adat suku Gayo di Aceh yang kini telah diadopsi oleh beberapa daerah baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia.

Rombongan selain ingin melihat souvenir Khas Gayo juga sebagian ada yang membeli dan membawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga.

Ibas dalam kesempatan tersebut mengharapkan agar kerajinan masyarakat tersebut terus dikembangkan sehingga dapat menopang ekonomi keluarga di Gayo, dan kedepan kerajinan di setiap daerah utamanya hasil kerajinan yang memiliki makna cukup baik akan terus diperhatikan oleh pemerintah melalui kementrian terkait.
Usai berkunjung ke pusat kerajinan rakyat tersebut Rombongan bertolak ke lokasi destinasi wisata Pantan Terong dimana dari ketinggian ini, rombongan dapat melihat dibawah perkebunan kopi rakyat terdapat hamparan danau yang cukup luas dimana ikan Depik, Mujahir, Bawal yang tumbuh dan berkembang di danau tersebut juga menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat setempat.

Selain menikmati keindahan dan fanorama alam kota Takengon, rombongan juga merasakan desiran angin sepoi-sepoi menerpa tubuh setiap orang yang hadir ke puncak.