Sumber Foto: Kompas.com

TAKENGON,BANDA ACEH – Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono ( Ibas) dan istrinya, Siti Ruby Aliya Rajasa atau Aliya, mengunjungi Takengon, Aceh Tengah, Aceh, Jumat (21/9/2018), dalam rangkaian kegiatan Saweu Aceh 2018. Bersama rombongan Fraksi Partai Demokrat DPR RI dan Persaudaraan Istri Anggota (PIA), keduanya sesekali tampak mesra dalam sejumlah momen. Kemesraan keduanya mulai tampak saat turun dari mobil Alphard di depan Gedung Olah Seni (GOS) Takengon, pasangan ini bersama rombongan disambut dengan tari Guel, sebuah tarian tradisional Gayo Lut, dari Takengon. Lalu, baik Ibas maupun Aliya langsung dikenakan Upuh Ulen-ulen oleh Ketua DPC Partai Demokrat Aceh Tengah, Ismail. Upuh Ulen-ulen adalah selembar kain bermotif kerawang khas Suku Gayo yang menempati daerah itu. Kain ini biasanya dikenakan oleh pengantin pria dan wanita dalam sebuah upacara pernikahan. Upacara penyambutan dalam tradisi Gayo pun diterima oleh Ibas maupun Aliya. Keduanya terlebih dahulu mendapatkan ritual tepung tawar, yakni sebuah ritual dengan menggunakan media jenis bunga dan beras serta air. Seorang perempuan sesepuh adat menyematkan bunga yang baru dicelupkan air bercampur beras tersebut ke bagian kepala, bahu kanan dan bahu kiri keduanya, sembari membacakan doa agar Ibas dan Aliya mendapatkan keberkahan.

Bersama rombongan, pasangan ini lalu disambut dengan Tari Guel, tari tradisional Gayo yang bercerita tentang kisah membangunkan Gajah Putih. Aliya menggandeng erat lengan Ibas sembari menyaksikan tarian penyambutan tersebut. Acara kemudian dilanjutkan dengan seremoni di dalam ruangan. Ibas yang masih mengenakan Upuh Ulen-ulen menyampaikan apa yang telah dilakukan oleh Fraksi Demokrat selama ini, serta harapan partai berlambang bintang mercy tersebut pada usianya yang ke-17 tahun. Setelah acara selesai, Ibas dan Aliya membagikan ratusan paket sembako kepada masyarakat yang telah mendapatkan kupon untuk kegiatan itu. Sekitar pukul 12.00 WIB, kegiatan selesai. Ibas bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung Ruhama untuk shalat Jumat. Kemesraan Ibas dan Alya berlanjut setelah makan bersama di Kampung One-one, Kecamatan Kebayakan, sebuah kampung kuliner tradisional yang berada di pinggiran Danau Laut Tawar. Pasangan ini kemudian berpose dengan latar belakang Danau Laut Tawar dan Bur (Bukit) Birah Panyang. Saat berpose, Ibas memeluk istrinya. Ibas dan Aliya lalu melanjutkan perjalanan menuju kampung ekonomi kreatif, di Kampung Bebesen, Kecamatan Bebesen. Di kampung yang didominasi pengerajin kerawang Gayo itu, Alya sempat memberikan sedikit program PIA FPD, organisasi yang dipimpinnya, kepada puluhan perempuan pegiat UMKM di kampung tersebut. Setelah itu, Alya bersama anggota PIA FPD membeli sejumlah hasil karya para pengerajin kerawang Gayo yang berada tidak jauh dari lokasi pertemuan tadi. Tidak lama menyusul Ibas menuju lokasi itu, sembari melihat berbagai jenis produk yang dihasilkan oleh para pengerajin. Keduanya bahkan sempat berpose di lokasi tersebut. Berikutnya, rombongan bergerak ke Oro Coffee, perusahaan eksportir kopi Arabika Gayo milik Haji Rasyid, yang berada di Kampung Mongal, Kecamatan Bebesen.

Di lokasi ini, Alya ditemani Ibas, berkesempatan berbincang dengan para perempuan penyortir kopi. Sayang, para penyortir tersebut tidak sedang bekerja, karena para petani di daerah itu belum memasuki masa panen kopi. Meski demikian, keduanya sempat menyaksikan raturan karung goni yang siap untuk di ekspor ke beberapa negara di dunia. Dari semua peristiwa, yang paling menarik adalah saat keduanya bersama rombongan turut serta berada di objek wisata Pantan Terong, sebuah lokasi wisata yang berada di bukit. Dari Pantan Terong, semua pengunjung dapat melihat langsung laskap Danau Laut Tawar yang dikelilingi pegunungan, serta berada tidak jauh dari Ibu Kota Kabupaten Aceh Tengah, Takengon. Ibas dan Aliya di lokasi ini tampak menikmati kebersamaan. Bukan hanya mereka berdua, rekan-rekan dari FPD serta PIA FPD turut menikmati udara nan sejuk di bukit tersebut, ditambah keindahan panorama alamnya. Sesekali Ibas dan Aliya memanfaatkan keadaan tersebut untuk foto berdua di sejumlah titik. Baik Ibas maupun istrinya tak canggung saat dibidik kamera. Aliya sesekali menjadi koreografer untuk Ibas, suaminya.

                                      Sumber foto: Kompas.com

Sebelum meninggalkan Pantan Terong, Ibas mengatakan, keindahan Takengon adalah salah satu bukti kekayaan alam Indonesia yang patut untuk disyukuri. “Luar biasa. Saya tidak bisa berkata lebih banyak, karena semua sangat indah. Alhamdulillah Indonesia diberkati oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Begitu banyak alam yang ada di Aceh, khususnya Tanah Gayo di Takengon. Kita semua lebih mencintai negeri kita, kita bersyukur, alhamdulillah,” kata Ibas. Momen kebersamaan yang dilalui ini, lanjut dia, menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Karena tidak perlu ke luar negeri, kesejukan dan keasrian di daerah penghasil kopi arabika itu seperti layak memberikan kesejukan bagi masyarakat Aceh.

                                            Sumber foto: Kompas.com

“Bagi masyarakat di Indonesia dan luar negeri. Datanglah ke Pantan Terong, kita nikmati titik atas dari Takengon. Insya Allah apa yang mereka impikan dengan doa semua dapat terwujud di masa mendatang. Stres semua bisa hilang sejenak. Asal yang frustrasi tidak loncat ke bawah karena kenangan ini bisa menjadi kesatuan dan persatuan bagi kita semua,” ungkap Ibas. Kunjungan Ibas, Aliya dan rombongan FPD dan PIA FPD ke Takengon adalah kunjungan ketiga mereka di Aceh dalam rangkaian HUT ke-17 Partai Demokrat. Sebelumnya, mereka mengunjungi dua daerah di Aceh, yaitu Kota Sabang dan Banda Aceh pada . Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, yakni 21-22 September 2018.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “”Indahnya Tanah Gayo di Takengon, Semua Stres Hilang Sejenak””, https://regional.kompas.com/read/2018/09/23/23572511/indahnya-tanah-gayo-di-takengon-semua-stres-hilang-sejenak?page=all.
Penulis : Kontributor Takengon, Iwan Bahagia
Editor : Caroline Damanik